Jumat, 15 Februari 2013

cerita cinta remaja : akhir rasa ini



Akhir Rasa Ini

JJJ

Shilla bersenandung kecil mengiringi lagu yang terputar dari laptopnya. Suaranya lirih, lambat laun terdengar lebih miris. Detik selanjutnya, setitik air menetes dari sudut matanya, merayapi pipinya dengan lancar, meluncur deras dalam sekejap. Rekaman memori pahit masa lampau yang kembali mengoyak batinnya, membuat gadis itu merintih. Ia…merasa dirinya begitu rapuh…




Shilla memejamkan mata sejenak. Getaran dari ponselnya yang tiba-tiba membuat tangisnya sedikit mereda, meski masih terisak sesekali. Diraihnya ponsel yang terletak di atas tempat tidurnya, lantas kemudian, tangisnya kembali pecah. Lelehan butiran hangat itu membanjiri wajahnya yang terlihat lelah. Pesan singkat yang baru saja ia terima, membuat otot-ototnya lemas. Shilla… merasa dirinya seakan menjadi lemah dalam detik itu juga.

“Kita temenan aja, ya? Nggak usah ada hubungan yang spesial…”

Tepat! Hati Shilla luruh setelah membaca isi SMS dari pujaannya itu. Rasa yang ia simpan rapi dalam ingatannya, masih menyatu dengan nadinya. Hanya saja… rasa itu mengupas kembali luka lama yang terpendam. Samar, namun pasti. Dan, nama yang tadi tertera di layar benda kesayangannya, membuat Shilla meraung frustasi. Ia telah tercabik oleh pisau cintanya yang dulu.

Namanya, Gabriel Stevent Damanik. Sosok yang pernah menemani hari-hari Shilla, membalas kebawelan Shilla dengan senyuman, menghadapi keegoisan Shilla dengan sabar. Yaa… Gabriel! Sosok yang tetap berusaha tenang meski 11 Januari 2012 itu menjadi akhir kisahnya dengan Shilla. Dan, Gabriel tetap memapu memamerkan ketegarannya ketika Shilla tertawa ceria bersama yang lain, jauh sebelum Shilla bersamanya.

Shilla mendesah keras. Kini, ia menyesal. Seandainya ia dapat memutar waktu, seandainya ia dapat berbalik ke masa lalu, ia tidak akan menyakiti Gabriel. Sedikitpun tidak ingin!

Lagi, Shilla mendesah seiring hembusan nafasnya yang panjang. Hatinya dari tadi berontak, tak menerima kenyataan, membenci takdirnya ketika ia tak lagi bersama Gabriel. Semuanya luluh lantak. Hancur lebur! Tapi, belum bisa musnah. Shilla masih  menanti, meskipun ia telah menjadi serpihan debu tak terjamah. Ah, Shilla benar-benar menyesal atas kebodohannya, atas dustanya dan segala kesalahan  yang dibuatnya pada Gabriel setahun silam.

Lalu sekarang? Shilla sudah terlambat. Saat ia kembali meminta hati Gabriel yang telah dua kali ia lukai, saat ia ingin memperbaiki kisahnya dengan Gabriel, saat ia yang akhirnya sungguh-sungguh mencintai Gabriel, Gabriel malah meminta Shilla untuk melupakannya…

Jadi, ini karma? Nampaknya memang benar. Shilla tentu tertawa hambar di sela kepedihannya. Ia berpikir dirinya sangat bodoh saat ini. Ia tahu, mendapatkan balasan peluk dari seseorang yang tak lagi menyayanginya, itu sangat sulit. Tapi, Shilla tetap bersikeras. Gabriel harus mencintainya!

Shilla kemudian beranjak. Berlari kecil dengan separuh tenanga yang masih tersisa menuju meja belajarnya. Dengan perasaan berkecamuk, ia menghamburkan segala apapun yang ada disana. Namun, tiba-tiba ia terhenti. Senyum sinisnya terpeta setelah ia menemukan sesuatu yang menurutnya dapat membuat jiwanya tenang. Setelah itu, ia kembali mengambil ponselnya sambil menyambar sweater hijau dan langsung mengayunkan langkah menuju taman komplek rumahnya yang lumayan sepi.

JJJ

“BODOH!!!” teriak Alvin keras, menemukan Shilla yang sedang mengukir nama Gabriel di tangannya dengan menggunakan cutter. Dengan kasar, Alvin merebut benda tajam itu dari tangan Shilla dan menjatuhkannya di dekat kaki Alvin, tak peduli dengan tangannya yang juga ikut tergores.

“Kamu terlalu bodoh! Ngapain kamu kayak begini? Hah!” amuk Alvin, matanya yang berkilat menatap tajam manik mata Shilla yang berbalut kalbu. Amarah Alvin benar-benar telah mencapai titik didih. Berapi-api…

“Kenapa? Ini seni, Kak. Keren, kan?” tutur Shilla tenang dengan suaranya yang parau, namun menatap pilu tangannya yang penuh darah. Tak lama, air matanya kembali terjun dan menganak sungai. Shilla… kembali menangis.

“Kamu bilang ini seni? Keren? Dimana otak kamu, Shill? Dimana?!” bentak Alvin sambil memegang lengan Shilla keras. “Apa ini bakal bikin Gabriel balik ke kamu? Kamu nggak bisa paksa rasanya untuk kamu, Shill…” tambah Alvin lagi, suaranya berubah serak.

“Kenapa Kakak ngurusin hidup aku, hah?” gumam Shilla pelan, begitu pedih. Sesuatu yang memuakkan jiwanya datang lagi untuk menghimpit dadanya hingga sesak. Shilla, berusaha melepas cengkraman Alvin untuk mengambil kembali cutter yang telah tergeletak lemah di rumput taman.

“Karena Kakak sayang sama kamu! Kakak nggak pengin lihat adik Kakak sakit cuma gara-gara cinta!” jawab Alvin sambil menahan Shilla. Emosinya sekejap teredam. Usai Alvin berucap, pertahanan Shilla semakin jebol.

“Aku nggak mau Gabriel pergi, Kak. Tapi, kenapa Gabriel menjauh?” desah Shilla bergetir. Alvin menghela nafas, dan tanpa ragu menarik Shilla ke dalam dekapannya.

“Kakak tahu. Tapi tolong jangan pakai cara kayak begini untuk membuat Gabriel mau kembali bersama kamu. Gabriel bukan menjauh, tapi dia cuma lagi pengin sendiri…”

JJJ

Shilla mengerjapkan matanya dua kali, menatap lagi deretan kalimat yang ada di layar ponselnya yang sudah cukup lama tersimpan pada kotak masuknya. Kata-kata yang sampai kini masih menghantui benak Shilla, membuat kadar keceriaannya semakin berkurang. Ia mendesah. Sesalnya kembali terpikirkan. Satu bulan penuh ia berusaha melawan jenuhnya, tak mampu membuat Shilla benar-benar dapat membuang sedihnya.

“Udah berapa kali Kakak bilang sama kamu, pesan dari Gabriel mestinya kamu hapus. Kalau tiap hari kamu ratapi kayak begitu, gimana bisa kamu lupain dia?” celetuk Alvin, membuat Shilla mengerucutkan bibirnya.

“Susah, Kak!” keluh Shilla, kemudian menopang dagu sambil menatap lurus ke depan. Menikmati pemandangan dan suasana taman di sore hati yang tentram.

“Tentu susah. Karena, kamu belum tulus melupakan Gabriel.” Shilla beralih lagi menatap Alvin bingung. Namun, yang ditatap hanya tersenyum lembut dan menjelaskan maksudnya dengan tenang.

“Shilla, semuanya butuh proses. Begitu pula kalau kamu mau melupakan dia. Kamu itu sebetulnya bisa. Tapi, kamu nggak berusaha. Dengan cara kamu yang selalu baca SMS-nya saat kamu lagi sendiri, itu hanya bikin kamu nggak bisa melupakan dia. Bikin mood kamu jadi jelek. Terus, bawaannya galau, deh…” Alvin jeda sebentar, menunggu respon dari Shilla. Hening. Alvin kembali meneruskan.

“Nggak masalah kalau misalnya kamu nengok ke belakang, ingat kenangan kamu saat masih jalan sama dia, asal itu bikin langkah kamu maju, asal itu bisa memotivasi kamu buat menjadikan diri kamu lebih baik lagi. Kamu kan, tahu, Tuhan selalu memberikan yang terbaik buat hidup kita, bukan yang menurut kita baik. So, kamu nggak perlu khawatir. Jadikan ini sebagai pelajaran yang berharga buat hidup kamu ke depan…” nasihat Alvin bijak.

“Berarti Gabriel bukan yang terbaik buat aku ya, Kak. Pasalnya, Tuhan nggak menyatukan aku sama dia…” kata Shilla pelan, hatinya mulai sedikit tentram. Catat ya, hanya sedikit.

“Begitulah, mungkin. Ah, ya, Shill! Siapa tahu Kakak yang akan dipilih Tuhan untuk menghapus segala kerisauan hati kamu di masa yang akan datang. Hehehe…” goda Alvin sambil memainkan alis, membuat Shilla mencubit lengan kakak angkatnya itu dengan sebal.

“Yeee… maunya!” Shilla mendengus, pura-pura marah. Alvin terkikik geli.

“Mau, dooong!” jawab Alvin. Lagi-lagi menggoda. Yang tanpa sadar, menghadirkan guratan merah jambu di pipi Shilla. Ehm… nampaknya Shilla sudah tak sanggup lagi untuk menyembunyikan simpul cantiknya.

“Ah… Kakaaakkk!

JJJ

Sekarang aku tahu, cinta itu indah jika di dalamnya terdapat ketulusan. Aku juga sadar, cinta bukanlah suatu paksaan. Dan, mulai saat ini, aku akan tulus berusaha melupakan Gabriel, mengakhiri penantianku yang penuh ego, dengan harapan aku bisa kembali tersenyum lepas. Walaupun, tanpa tawanya yang dulu selalu tergerai untukku, senyumnya yang dulu tercipta khusus untukku, tanpa rasanya yang aku tahu sudah dilupakan. Well, seperti yang dibilang Pak Mario Teguh, “Melepaskan mungkin sulit, tetapi untuk mendapatkan seseorang yang tepat, kamu harus melepaskan yang salah!”

-Ashilla Zahrantiara- (Shilla)


4 komentar:

Anonim mengatakan...

yang bkin Shivers ya????

Jenderal Kriz mengatakan...

ya saya seorang shivers

Anonim mengatakan...

kurang panjang

Anonim mengatakan...

Hihi terimakasih komentarnya x) ya lain kali saya post yang lbh panjang :D

Posting Komentar