Senin, 11 Maret 2013

Cerpen Remaja: Apalah Arti Menunggu




Telah lama aku bertahan 
Demi cinta wujudkan sebuah harapan 

12 Desember 2012 
Tepat satu bulan setelah perpisahan antara aku dan Cakka terjadi. Kehadiran pihak ketiga membuat perasaanku jadi hambar untuknya. Meski aku paham bahwa perihal yang menjadi masalah kami adalah teman dekatnya sendiri. Tapi aku terlanjur kecewa. Seluruh hatiku sontak menyebar mencari kepingannya yang berhambur. Satu rasa yang mutlak tercipta. Pedih. 
Dan, bagiku Cakka memang sudah keterlaluan. 





Namun ku rasa cukup ku menunggu 
Semua rasa telah hilang 
Sejujurnya sayang itu masih ada. Bahkan setelahnya aku tetap menunggu Cakka berbalik dan meraihku. Meski tidak akan mungkin lagi. Seandainya Cakka berani bicara dari awal bahwa Ayahnya tidak merestui hubungan yang kami jalin dan tidak berbohong atas nama Oik saat itu. Setidaknya aku tidak akan mengecap sesuatu yang seperih ini. Tapi aku harus sadar, biar bagaimanapun Cakka pernah berharga untuk hidupku. Memang siapa lagi yang selalu memperhatikanku selama ini jika bukan Cakka? 
Dan perlahan aku mulai membiarkan cinta ini terbang tanpa harus aku cegah. 

Sekarang aku tersadar 
Cinta yang ku tunggu tak kunjung datang 
Apalah arti aku menunggu bila kamu tak cinta lagi? 
Memang. Cakka tidak akan pernah bisa lagi bersamaku walau ratusan kata sayang dia lontarkan kepadaku seperti saat kemarin kami bertemu diam-diam di taman kota. Tidak akan pernah bisa. Dan tidak pernah mungkin. 
Sekarang aku dan Cakka begitu berbeda. Terhalang oleh Ayahnya yang egois. Cakka bilang dia benci mengapa hanya dia yang dikekang sebegini parah. Bahkan dalam urusan asmara pun, Ayahnya yang berhak menentukan. Cakka bahkan menangis di depanku sambil bercerita tentang seberapa rapuh hatinya tanpa aku. Seberapa besar cintanya untukku. 
Aku terharu. Sebenarnya, aku juga sangat terluka dengan ini. 

Dahulu kaulah segalanya 
Dahulu hanya dirimu yang ada di hatiku 
Namun sekarang aku mengerti 
Tak perlu ku menunggu sebuah cinta yang semu 
Aku dan Cakka. Dibentangkan jarak hati yang sangat jauh. Cinta yang ditahan. Mengakhiri kisah penuh paksa. Aku hanya bisa menangis sekarang. Sambil berusaha mengumpulkan keberanianku untuk melupakan Cakka. 
Tidak. Sebenarnya aku tidak mau. Tapi keadaan juga harus memaksaku menghapus namanya dalam jiwaku. Dan, aku memang harus melakukannya. 
Dan, ternyata aku hanya pura-pura ikhlas dengan semuanya. 




11 Februari 2013 

Kali ini aku menangis lagi. Tadi Cakka baru saja datang dengan kekasih barunya, Zahra,untuk mengantarkan undangan pernikahan mereka. Bukan. Bukan kekasih baru, tetapi cinta yang kembali dipaksa. Perasaanku malah kian campur aduk. Antara tidak rela, marah, menyesal, dan benci. Tidak rela karena Cakka akan bahagia dengan yang lain. Bukan aku. Marah karena puing masa lalu kembali menderaku. Menyesal karena terlambat tahu tentang ini. Sudah ku bilang, untuk apa Cakka bohong? Melewati beribu rasa bersama Cakka selama satu tahun sepuluh bulan. Dan itu bukan waktu yang sebentar. Aku benci, mengapa bukan aku yang menjadi takdir Cakka. Apakah cinta yang benar adalah pilihan dari orang tua? Apa ini sesuatu yang murni? 

Pelan. Air mataku seakan mereda setelah ada sebuah telepon masuk dari nomor Cakka. Aku lantas menjawabnya cepat. 

"Kamu masih bisa menyimpanku dalam ruangan terdalam di hatimu. Karena aku juga melakukannya demi cinta yang sebenarnya. Demi kamu, Shilla" 

Suara Cakka lirih. Air mataku menderas lagi. 

"Jika kita tidak bisa bersama di dunia ini. Tapi aku sangat percaya kita akan lebih bahagia di dimensi yang berbeda nanti. I do love you." 

Klik. Sambungan putus. Dan aku masih terus menangis. Untuk Cakka. 

0 komentar:

Posting Komentar