Senin, 11 Maret 2013

Cerpen Remaja: Dimana?



***

Aku mendesah. Merasa risau tatkala dari beberapa menit sebelumnya tetap gagal untuk tidur. Mata yang tadi terpejam kembali terbuka. Aku menggeleng kecil. Ada perasaan jengah yang hadir membalut hatiku. Ada pula keraguan yang mengelilingi pikiranku. Aku lagi-lagi mendesah.



“Apaan sih ini? Kok jadi kepikiran?” keluhku lelah. Hampir menyerah. Ku lirik ponselku kemudian. Tenang. Bahkan, tidak ada sekalipun tanda getar dari benda kecil itu. Aku menutup mata, lagi.


“Ya Allah, Dania rindu berat sama Daffa, tolong pelihara hati Daffa di sana. Jangan biarkan sinarnya meredup dan menggelapkan langkah Dania. Amin,”

Dan usai melafalkan doa itu dalam hati, aku merasakan ada sesuatu yang mengaliri pipiku. Hangat .. Aku lantas menghela. Aku sudah menduga ini sebelumnya. Akhirnya, aku kembali memutuskan –memaksa tepatnya- untuk tidur.

***

Aku merasa semua memudar, dan sakit ini aku rasakan dalam perlahan. Ku buang nafasku jengah. Ada sesuatu yang tiba-tiba menyerang dadaku sampai sesak. Rasanya kadang jadi ngilu. Aku lalu meringis. Menyadari perbedaan yang kini semakin sulit untuk dilalui. Entahlah ..

Lalu, aku, atau dia, atau juga waktu yang membuat segalanya berubah? Namun jelasnya, aku hanya merasa diriku yang kian terluka.

Kamu siapa aku? Kamu nggak berhak larang-larang aku!

Bahkan pesan singkat yang ia kirim beberapa hari yang lalu padaku sengaja aku simpan, meski nyatanya itu hanya membuatku semakin melemah. Air mataku seketika luruh. Aku tahu aku salah, terlalu mengekangnya. Egois. Tapi, mengapa ia tetap tidak mau mengerti atas keinginanku? Aku butuh dia, meski raganya tidak di sini ..

Kembali, ku hembuskan nafasku, berharap semua rasa sakit yang ku terima menghilang pelan namun pasti. Aku yakin, ia hanya kalut atas sikapku saat itu.

***

Langkahku terayun gontai menyusuri koridor sekolah. Merasa lelah dan ingin berhenti menghadapi semuanya. Semangatku seakan patah. Tidak ada sedikitpun gairah untuk membuatku bangkit dari kepedihan ini.

“Kenapa kelihatan lesu banget hari ini?” tiba-tiba Nada -teman dekatku- datang mengejutkanku dari belakang, lalu menggandengku sambil tersenyum lebar. Ah, aku merasa iri. Harinya selalu ceria. Binar matanya selalu terang. Sekalipun aku tak pernah melihatnya murung.

Aku hanya menggeleng lemah.

“Serius? Benaran nggak apa-apa?”

Aku menggeleng lagi. Nada mengangguk kecil. Dan sembari meneruskan jalan menuju ke kelas, hanya atmosfer hening-lah yang menyelimuti kami…

***

Aku memandang lirih kalender di atas meja belajarku. 29 Oktober 2012. Hanya tinggal satu hari lagi. Tapi, aku merasa semuanya belum terjalin seperti semua. Aku menghembuskan nafas panjang. Ingin meluapkan semuanya, tapi tidak tahu lagi pada siapa.

Kualihkan pandanganku ke layar ponsel. Tidak ada satupun pesan darinya. Aku hanya tersenyum miris. Perbedaan itu kembali terpikirkan. Hatiku menyusut. Kata-kata menohok beberapa waktu lalu membuatku tersudut. Apa aku tidak lagi penting untuknya?
Tak tahan, kuputuskan untuk mengirimnya pesan terlebih dahulu.

“Daffa…”


Satu detik, dua detik, tiga menit, lima menit.. Belum ada balasan. Aku merintih pelan. Apa harus dia setega ini? Daffa benar-benar telah berubah. Tidak mengertikah dia bahwa aku sangat menyayanginya?

Seketika aku putus asa. Air mataku turun lagi. Ini terlalu berlebih? Memang. Tapi inilah aku, inilah isi hatiku. Aku tidak ingin banyak, hanya ingin dia mengerti bahwa kini aku remuk. Sampai dia tahu, kala sinarnya yang dulu terang kini meredup, hangatnya tak lagi ku rasakan. Dan .. yah, apa lagi coba yang dapat aku harapkan dari ini ? Satu sisi aku terjatuh, yang lain aku ingin tetap bertahan .. Namun, aku tak henti meminta untuk membuat dia mau mengerti, bahwa aku benar-benar merindukannya, yang dulu :')

0 komentar:

Posting Komentar