Sebelumnya, aku nggak pernah merasakan sesuatu yang efeknya berbahaya. Yaitu, nggak bisa ngomong apa-apa kala aku sedang berada di dekatnya. Selain nggak mampu mengeluarkan beberapa patah kata, tubuhku juga langsung bergetar diiringi debar jantung yang nggak menentu. Pipiku seketika bersemu, merasakan sebuah sensasi yang berbeda untuk kali ini dan aku nggak kuasa untuk menahan sebuah lengkungan kecil yang akhirnya terukir juga di bibirku. Sesekali, aku menghembuskan nafas sambil berfikir dalam keheningan lisan hanya untuk sekedar menetralisir perasaanku yang tiba-tiba jadi aneh. Aku salah tingkah. Dan sepertinya, aku naksir dia!
Jadi, inikah yang namanya cinta? Sesuatu yang berbeda dari yang lain? Sesuatu yang sederhana namun istimewa? Sesuatu yang sempurna? Untuk kali pertamanya pula aku benar-benar merasakan cinta yang sesungguhnya. Rasa ini, begitu jauh berbeda ketika aku jatuh cinta dengan cowok sebelum dia. Well, dulu, disaat aku mengenal dan di dekat mereka, aku biasa aja. Nggak ada reaksi lebih dahsyat yang menghampiri ruang hatiku. Memang, sih, aku senang. Tapi, cuma sebatas itu. Entah, aku juga nggak tahu apakah aku memang menyukai mereka atau tidak waktu itu. Umm, tapi sebentar… Ada, sih, satu cowok yang persis kayak dia, cuma sekarang dia sedang ada di… Ah! Nggak usah dibahas sekarang, deh!
Malam minggu yang lalu, saat aku melewati malam sembari menemani temanku, Viona, latihan seni bela diri asli Indonesia di sebuah bangunan bersejarah yang bernama Gedung Pemuda, aku melihatnya ingin berjalan menghampiriku dan Viona. Namun, buru-buru berbalik ke arah teman-temannya, ketika tiba-tiba ada seorang cewek datang dan memanggil namanya. Seiringan dengan itu pula, senyumku yang tadi sempat merekah, dalam sekejap menjadi pudar. Aku meringis. Tak lama, tertawa hambar.
Melihat kejadian itu, perasaanku jadi campur aduk. Antara marah, kesal dan cemburu karena cewek yang saat itu memanggilnya adalah pacar dari cowok itu. Aku lalu sengaja mengalihkan titik pandang ke arah lain, mencoba mencari hal yang -setidaknya- dapat mengembalikan kadar keceriaanku. Sebenarnya, yang mengajakku ke Gedung Pemuda ini adalah dia. Aku, sih, ya senang-senang aja. Karena aku yakin dia nggak akan menjadikanku seperti patung disana. Tapi nyatanya? Semua malah berbanding terbalik dengan apa yang aku pikirkan.
Sepulangnya aku dari tempat itu, aku jadi bad mood. Aku jadi nggak bergairah lagi buat melakukan apa-apa. Dan itu, berpengaruh besar dengan nilai-nilai mata pelajaranku yang akhir-akhir ini jadi menurun lantaran terus memikirkan dia yang sebetulnya udah bikin aku patah hati. Padahal, aku sadar bahwa dia nggak mungkin memikirkan aku. Hhh… Aku lantas menghela nafas panjang.
Ponselku yang berada di atas meja belajar tiba-tiba bergetar, menandakan sebuah pesan masuk telah menyinggahi kotak pesanku. Sebelum aku membuka dan membaca pesan singkat tersebut, aku melihat namanya terpampang jelas di layarku. Perasaan sebal itu rupanya datang lagi padaku. Namun, di sisi lain, ada perasaan yang bertolak belakang dengan perasaan nggak senangku padanya. Aku, bahagia karena dia mengirimiku SMS!
“Kay, kamu marah, ya? Juga, serius nggak sih kamu datang ke Gedung? Aku nggak salah lihat, kan?”
Aku mendengus. Hey! Mengapa ditanyakan lagi, sih? Jelas-jelas aku berdiri di samping Viona dengan muka yang ditekuk setelah kedatangan pacarnya. Ah! Yang benar saja dia yang mengajakku kesana, dia juga yang akhirnya tidak menganggapku ada disana? Siapa sih yang nggak nyesek kalo dicuekin? Apalagi, masalahnya, orang yang cuek sama kita adalah orang yang kita sayangi. Hoh, menyebalkan!
“Aku kesana. Pake sweater hijau. Mata kamu normal nggak ya? Kamu kan lagi asyik sama pacar kamu, ya nggak mungkin nemuin aku lah… Iya, nggak, sih? Ha ha, bercanda!”
Aku tersenyum sekilas, sengaja menyindirnya lewat balasan pesan itu. Selain hal itu, aku ingin melihat bagaimana reaksinya jika nanti dia mau membalas pesanku.
“Nggak, kok. Syifa cuma sebentar. Dia cuma nganter flashdisk doang, terus pulang, deh…”
Aku mengerucutkan bibir kesal. Aku kan nggak ada nanya nama pacarnya. Ih, aku benar-benar jadi sensitif, nih…
“Oh. Yaudah, deh. Aku mo tidur. Bye!”
Dan, setelah bertukar pesan dengan cowok yang punya nama Rizoku itu, aku langsung mengnonaktifkan ponselku sambil kemudian pergi tidur. Dengan harapan jika bangun besok pagi pikiranku benar-benar tenangg… Nggak cuma itu, aku berdoa banget agar nggak bermimpi dia dan pacarnya yang sedang bermesraan, tentunya…
***
Pagi telah tiba!
Aku membuka gorden bermotif bunga-bunga kecil berwarna hijau seiringan sinar matahari masuk melalui celah-celah kecil pada jendela kamarku. Alhamdulillah, pikiranku kembali seperti semula. Seenggaknya, lumanyan damai, lah… Yang jelas, nggak ada lagi terbesit bayang-bayang Rizoku dan pacarnya yang membuat otakku malas bekerja. Yuhuuu, NICE DAY, guys!
Kemudian, aku mengambil handuk dan pergi mandi. Lalu, bersiap-siap untuk menemani Viona berbelanja ke Mall. Katanya, sih, mau cari kado buat pacarnya, Rangga, yang besok ultah. Ciyee… Nggak masalah, deh. Hitung-hitung jalan-jalan sekalian me-refresh lagi otakku supaya loading-nya nggak kayak siput. Kali aja, disana aku bisa dapat yang lebih bening dari Rizoku. Siapa tahu… He he he!
Ketika lagi asyik memilih jaket di salah satu toko, kami nggak sengaja bertemu Rizoku dan pacarnya itu. Tapi, aku nggak menegurnya karena kehilangan mood baikku, lagi. Aku cuma melempar senyum seadanya -itupun terpaksa- sambil kemudian berkenalan dengan Syifa-Syifa itu. Jujur, ya, sebetulnya aku enggan menatap mereka, apa lagi sampai kenalan dengan pacar Rizoku. Uh, kalo nggak karena Viona, nggak mungkin terjadi nih acara tukar nama sama Syifa. Well, aku cuma sebatas itu aja, sih. Yaa… nggak seperti Viona yang sempat ngobrol banyak dengan Syifa. Mataku pura-pura fokus ke layar ponsel, meski sebetulnya aku sering curi-curi pandang ke arah Rizoku berdiri.
***
“Syifa cantik, ya? Cocok sama kamu. Kelihatannya, dia juga cinta mati sama kamu, tuh.” komentarku sok tahu ketika dia mengajakku bertemu di sebuah cafĂ© setelah tiga hari berlalu pasca bertemu dan berkenalannya aku dengan pacar Rizoku.
“Oh, ya? Semua cewek cantik, kali. Kayak kamu juga. Mana mungkin tampan, kan?” tanggap Rizoku.
Aku refleks terdiam. Kentang goreng yang udah masuk mulut jadi enggan aku kunyah. Dan setelahnya, jadilah hening yang menjadi atmosfer utama diantara kami berdua. Kami lantas larut dalam pikiran masing-masing. Aku yang nggak tahu harus ngobrol apa lagi dan memikirkan bagaimana cara bikin Rizoku nyaman bersamaku. Dan, dia… yang nggak aku tahu sedang memikirkan tentang apa. Mungkin, Syifa… Hingga sampai beberapa menit terlewatkan, suaranya yang agak parau menegurku pelan.
“Kay, sebenarnya perasaan kamu ke aku kayak apa, sih?”
“Biasa doang!” jawabku sambil me-lap bibirku dengan tissue, berusaha sesantai mungkin. Rizoku mengangguk, namun raut wajahnya menyiratkan makna bahwa dia nggak percaya atas jawabanku. Pas! Dia mengulang pertanyaannya.
“Yakin? Serius dong. Kalo memang biasa doang, kok waktu malam minggu kemaren, pas aku latihan, kamu nggak senyum ke aku sama sekali. Padahal, kan, kamu lihat aku saat mau balik ke rumah. Bukannya kepedean, ya, Kay. Tapi, kata Viona, kamu suka sama aku. Itu… benar, nggak?” Rizoku meneguk cola-nya sebentar, kemudian matanya yang teduh menatapku dalam.
Aku tersentak tertahan. Ah, Vionaaa… Hatiku jadi kembali berdebar dengan desah nafas yang nggak teratur. Huh, aku berharap wajahku nggak seperti kepiting rebus saat itu.
“Oke,” Aku melepas karbondioksida. “Err… aku memang suka sama kamu. Pasalnya kamu bikin aku senang. Sebelumnya, memang ada seseorang. Dia juga kayak kamu. Sayangnya, sekarang dia udah pergi membawa hatiku. Jauh! Dan, yah… Kamu bikin aku ingat semua tentang…” Sengaja aku jeda sebentar untuk meneguk minumanku, lalu menatap Rizoku yang keningnya sudah bertautan.
“Siapa, Kay?” Rizoku heran.
“Namanya, Fata. Well, seperti yang tadi pengin aku bilang. Dia udah senang di surga. Dan, aku tahu itu…” Aku terbata sambil mengulas senyum lirih. Entah, aku nggak mengerti atas hatiku saat ini. Iya, tentang bagaimana bisa aku menceritakan rahasia pilu-ku kepada cowok yang baru aku kenal itu?
“Sejak itu, aku nggak pernah jatuh cinta apalagi pacaran. Sampai aku menemukan kamu, akhirnya perasaan cinta itu muncul lagi. Cinta yang semenjak kepergian Fata udah lenyap, balik lagi untuk menuntunku. Hahh, ternyata ungkapan cinta tak harus bersama memang benar adanya, ya. Biarlah, yang jelas, selalu ada di hati. Benar, nggak?” lanjutku. Tanpa terasa, setetes air menetes dari sudut mataku, membuatku dengan segera mengusapnya. Aku kembali membuang nafas, berharap rasa sesak yang menguak akan terkubur lagi di dasar hatiku, yang terdalam.
“Sorry. Aku malah jadi curcol begini,” aku bergumam pelan. “Jadi, gimana hubunganmu sama Syifa?” kataku, mengalihkan pembicaraan.
“Baru seminggu ini putus.” katanya singkat, lalu tersenyum masam. “Syifa selingkuh. Ha ha, rasa sayang aku ke dia selama setengah tahun cuma permainan.” tuturnya. Aku lantas membulatkan mulut terkejut. Yang benar?
“Kok bisa, sih?” lirihku agak nggak terima.
“Biarlah. Kayak cewek di dunia cuma Syifa aja,” Rizoku tertawa kecil. “Jadi, kamu menganggapku sebagai Fata? Suka sama aku karena aku mirip Fata. Begitu, ya?”
Aku menggeleng. Nggak tahu harus memberi respon apa. Sebenarnya memang, bayang Fata masih sering melintasi
benakku, tapi pada sisi yang lain, aku juga mencintai Rizoku. Tapi, masa iya aku mencintai Rizoku karena belum bisa melupakan Fata? Dan sejak hari itu, aku sering bertanya-tanya pada hati kecilku, apakah aku mencintai Rizoku karena dia benar-benar mirip dengan Fata? Lalu, kapan aku bisa mencintainya sepenuh hati, tanpa ada terselip sosok Fata diantaranya?
***
Tiga hari mengurung diri di rumah, nggak membuat usaha otakku jadi sia-sia. Jadi, aku sudah punya keputusan untuk jujur ke dua kali sama Rizoku. Malam minggu, tepat seusai dia latihan, aku bakal pergi menghampirinya dan mengatakan bahwa aku menyayanginya. Bukan demi menghapus sosok Fata sepenuhnya, tapi untuk kebahagiaanku. Biarlah, aku nggak memikirkan gengsi lagi, yang aku mau hanyalah aku bisa tenang setelah mengungkapkan perasaanku pada cowok berwajah manis itu. Aku juga nggak peduli kata orang yang mungkin akan menilaiku buruk. Asal jangan vonis murahan aja ya, soalnya itu udah melewati batas deh!
Memangnya salah jika cewek mengungkapkan perasaannya pada cowok yang dia suka? Nggak, kan? Kalopun salah, siapa yang melarang? Ada UUD khusus apa? Huu. Seorang guru di sekolahku pernah berkata : “Perasaan suka dengan lawan jenis itu hal biasa. Wajar, kok, kalo itu terjadi dengan kalian. Apalagi, kalian yang sedang mengalami masa puber. Asalkan, dilandasi dengan iman yang kuat, ya!”
Nggak cuma Ibu Ellena yang ber-opini begitu, saat aku bertanya pada kakak kelasku -yang sering aku jadikan teman curhat- tentang masalah mengungkapkan perasaan, dia menjawab : “Nggak ada salahnya kok cewek bilang suka duluan. Daripada merasa terganggu, mending ungkapin aja. Diterima atau nggak, itu udah jadi keputusan si target kita itu. Kalo diterima ya kan kita bersyukur, kalo nggak ya paling nggak kita tenang.”
***
Ternyata saat latihan telah selesai, aku nggak melihat batang hidung Rizoku. Apa dia pulang duluan, ya? Heran, aku lalu bertanya pada salah satu kakak pelatih seni bela dirinya yang memang belum pulang.
“Rizoku udah pulang, ya, Kak?”
“Oh, dia masuk Rumah Sakit Mawar tadi sore. Kamu temannya?” jawab kakak pelatihnya sambil balik bertanya padaku. Aku mengangguk samar.
“Dia sakit apa? Terus, masuk ruang apa?” aku mulai panik.
“Sakit apa? Wah, kalau itu aku kurang tahu. Ruang Anggrek nomor 9.”
Aku menggigit bagian bawah bibirku gelisah. Ada sesuatu yang sekejap menghimpitku, yang pada akhirnya membuatku untuk cepat pergi setelah berterima kasih kepada pelatihnya.
***
Setelah pemberitahuan itu, besok siangnya aku langsung pergi ke Rumah Sakit Mawar untuk menjenguk Rizoku. Setelah berdiri tepat di depan pintu kamar ruang Anggrek nomor 9, aku membukanya. Dengan senyuman yang aku rasa masih menghiasi bibirku, aku mendekatinya yang masih berbaring di atas kasur. Sementara aku meletakkan tas plastik putih yang berisi buah apel, dia bergumam kecil.
“Thank’s ya, Kay.”
Aku tersenyum, kemudian duduk di tepi tempat tidurnya. Sambil menyentuh dahinya yang memang benar panas, dia berusaha bangkit dari tempatnya. Aku tersenyum lagi.
“Kok bisa begini, Zo? Akibat dari putus cinta, ya? Ih, serem…” godaku, namun bergidik setelahnya. Dia cuma terkekeh pelan.
“Gara-gara kamu nggak membalas cintaku, nih.”
Aku menyengir. Bisa aja bercandanya. “Apa maksud coba?”
“Aku suka kamu, Kay. Suer ya, aku nggak nyangka kalo sebenarnya aku tuh jatuh cintanya sa-”
“Bercanda kan? By the way, keluarga kamu kemana?” potongku sambil mengganti topik pembicaraan. Rizoku diam. Namun, tangan lemahnya meraih tanganku, lalu mencium punggung tanganku. Mataku membesar kaget. Rizoku, kok?
“Mama sama Papa, lagi dinas ke luar kota. Kakak aku kuliah. Jadi, deh, sendirian. Tapi, waktu kemaren ke Rumah Sakit, aku sama Tante.” Aku membulatkan mulut.
“Kay, buat apa bercanda, sih? Buat apa juga main-main?”
Aku mendesah ragu. “Bukan begitu. Aku takut kamu cuma menjadikan aku pelarian.”
“Kamu nggak percaya? Kay, aku bilangin sama kamu ya, cinta itu bukan sebuah permainan yang bisa seenaknya kita atur. Lagian, aku mau serisus sama kamu. Jadi, would you be my girlfriend, Kayla Raditha?”
Aku menggeleng samar, lalu melepaskan genggaman tangannya.
“Tapi, kenapa?” tanyanya. Air mukanya berubah kecewa.
“Maksudnya, aku nggak bisa menolak kemauan kamu itu, kok. Tapi, nggak romantis banget, sih. Masa nembak aku di Rumah Sakit?” ejekku sambil tersenyum jahil. Dia cemberut sok imut dan berkata manja.
“Yah, mau gimana lagi, dong? Aku kan lagi sakit ini, Kayli sayang…” katanya genit. Nada bicaranya bikin aku nyaris ngakak. Lucuuu…
“Bercanda, deh, bercanda. Aku mau kok. Meskipun nggak romantis, yang penting ketulusannya. He he he…”
Rizoku hanya tertawa renyah sambil kemudian mengangguk mengiyakan.
***
Setelah kejadian itu, akhirnya aku pacaran juga dengan Rizoku. Hari ini juga, dia akan pulang dari Rumah Sakit. Malam minggu setelah pacaran dengan Rizoku itu, aku nggak hanya beralasan menemani Viona latihan di Gedung Pemuda Indonesia lagi. Tapi, ada satu tambahan. Yaitu, “Ma, Pa, Kayli pergi dulu. Mau nonton Viona, sekalian jarang bareng Rizoku, sih. He he he…”
Ah, Rizoku benar-benar bikin hidup aku lebih banyak warna. Thank’s ya, Zo. Aku mencintaimu. Hari ini, besok dan SELAMANYA :)
0 komentar:
Posting Komentar