Dulu, pernah ada seseorang yang datang padaku. Aku ingat betul, waktu itu, aku sedang berada di dalam ruang kesenian sekolah. Katanya, alasannya menemuiku adalah hanya ingin membantuku untuk bangkit dari keterpurukan. Dia juga pernah bilang, "Lagu yang cocok untukmu adalah drama..."
Aku tertegun sejenak. Yang benar? Cuma sebenarnya, aku nggak begitu tahu tentang lagu itu. Tetapi jangan salah, aku tentu hafal lirik pada bagian reff-nya.
Oh sayang maaf ku tak jadi yang kau pinta
Jalan hidup kita memang tak selalu sama
Oh sayang maaf ku tlah buat kau kecewa
Tangis air matamu, penyeselanku
Usai menyanyikan lagu itu, aku kembali terdiam. Aku merasa sangat bersalah pada diriku. Ya, aku menyia-nyiakan orang yang sebetulnya tulus menyayangiku. Ah, rasanya bodoh sekali. Ibaratnya, ada orang yang memberiku dagiang ayam, eh, aku malah hanya mau tulang ayamnya. Ckck! Bukannya bersyukur diberi rezeqi berlebih, malah menolaknya. Duh!
Lalu, perlukah kini aku menyesali kebodohanku? Menangis dalam hati saat melihatnya tertawa bersama cewek lain? Bukankah ini salahku juga? Ah, kenapa aku memojokkan diriku sendiri?
"Tetapi, aku nggak mau kisahku dan kisahnya hanya sebagai drama..." lirihku.
"Jangan khawatir. Intinya, kamu jangan putus asa untuk membuat dia kembali sama kamu. Semangat yaaa!" katanya, memberi support. Aku mengangguk meski ragu.
"Thank's ya, Sivia!" balasku sambil tersenyum singkat. Kemudian, berlalu dari hadapan kakak kelasku itu.
***
Hatiku sesak. Sulit menarik apalagi menghembuskan nafas. Untuk sekedar bicara saja, lidah terasa kelu. Aku nggak tahu harus bagaimana lagi saat melihatnya duduk di samping seorang cewek ketika di sekolah tadi. Kalian tahu? Aku cemburu! Semuanya langsung lemah tak berdaya. Apa lagi, ketika melihat mereka tertawa bersama. Bikin otak panas. Memang, sih, aku nggak tahu pa yang mereka bicarakan, tetapi kayaknya asyik begitu. Buktinya...
Ah, tetapi untunglah, dewi fortuna berpihak padaku, ternyata Tuhan memang nggak mau melihat aku menangis, juga malaikat yang nggak membiarkanku bersedih. Alhamdulillah. Bel pulang hari ini berbunyi lebih cepat dari biasanya. Entah ada hal apa. Aku nggak tahu dan nggak mau tahu. Yang jelas, jika pulang cepat, aku bisa -setidaknya- membuat hatiku menjadi netral sehingga nggak seperih sepuluh menit yang lalu. Yeah!
Setibanya di rumah, aku langsung bergegas menuju kamar. Mengganti pakaian dan setelahnya menghempaskan tubuh ke atas kasur. Penat raga, penat pula jiwaku. Cacing-cacing di perutku malah sudah menggelar konser akbar sedari tadi. Namun, suer deh, aku jadi nggak nafsu makan karena ingat kejadhan di sekolah tadi. Uh, dua orang itu telah membuat setiap sudut ruang hatiku menjadi remuk! Badanku kembali lemas. Apa yang terjadi padaku, teman? Bisakah kalian menjelaskannya? Aku mulai memikirkannya lagi...
Tiba-tiba, ponselku bergetar. Ada pesan yang telah masuk ke nomorku. Segera, aku meraihnya dari atas meja kecil tepat di samping tempat tidur.
Jangan murung melulu dong. Coba tatap diri kamu di depan cermin deh. Jelek banget sumpah! Kayak orang yang nggak makan satu tahun, tetapi masih hidup. Hahaha. Oops! Just kidding!
Umm, Ashilla sahabatku yang cantik dan kocaknya menggelitik namun kadang bikin orang nggak bisa berkutik, kalau kamu memang sayang sama Cakka, kamu harus berusaha mengejar cintanya sampai menembus langit ke tujuh. Bahkan, sampai kamu menemui bidadari yang mirip wajahku yang manis ini. Apapun rintangannya, minumnya teh botol sosro! Eh... bukan, maksudnya, tetap optimis dan yakini diri kamu bahwa kamu bisa! Oke? Jangan khawatir, aku bakal selalu mendukungmu...
Dari Alyssa Saufikayak Bidadari :)
Aku tersenyum lebar. Ah, Ify -alias Alyssa- memang sosok yang mengerti tentang rasaku pada Cakka. Cowok yang nyaris bikin aku frustasi kemudian bangkit lagi. Benar-benar membingungkan dan menarik ulur! Namun, untuk sekali ini, aku berusaha menjadi cewek yang nggak bakal stress lagi. Pokoknya, semangat terus dehhh!
Buat kamu, thank's a lot yaaa!
Sudah pernah mengisi hatiku yang kosong. Mengajarkan arti cinta, juga rumus-rumus matematika. Menghadapi tingkahku yang bawel nggak bertepi dengan sabar. Selalu mengalah meski faktanya aku yang salah.
Kamu, sudah banyak berkorban untukku. Mulai dari kambing sampai unta. Eh! Bukan, ding! Maksudku, kamu sudah mengorbankan tenaga bahkan perasaanmu. Maafin aku ya, yang terkesan nggak menghargai ketulusanmu. Egoku menguasai semuanya :(
Cakka Nuraga, aku sayang kamu. Aku mau kembali meski sulit buat kamu terima lagi. Tetapi, aku bakal berusaha seperti kamu berusaha meluluhkan hati aku dulu...
Dari Ashilla Zahrantiara
0 komentar:
Posting Komentar